Senin, 10 November 2014

26 Juni 2014



26 Juni 2014

26 Juni 2014, tanggal itulah yang paling bersejarah dalam hidupku, ketika Tuhan mengambil belahan jiwaku, Nafas ku bahkan nyawaku.
Aku berharap tanggal itu takan kembali, karena hanya akan mengingatkan ku pada masa yang sulit itu, masa dimana Air mata mengalir begitu deras, langit begitu gelap bahakan kehidupan ku diselimuti angin yang sangat kencang.
Aku hanya terdiam terpaku bahkan tak berdaya melihat sosok tubuh yang terbujur tanpa nyawa dibentangkan didepan mata ini, saat itu aku hanya ingin Tuhan ambil mata ini agar aku tak melihatnya.perasaan ku kacau saat itu yang ku tahu beliau yang ada dimataku saat ini sedang duduk didepan rumah menunggu ku pulang.tapi dunia menyadarkanku dengan sangat kejam, saat dimana orang orang datang kerumahku menyampaikan turut berdukanya.
Aku basuh tubuhnya dengan air bahkan air mata untuk yang terakhir kalinya, aku sangat menyesal Tuhan Dulu aku berani membuat air matanya jatuh dan sekarang kau bahkan tak membiarkanku untuk menebus hal itu.
Aku terdiam begitu lama didepan jenazah sambil kulantunkan ayat suci Al-Quran, semua orang berdatangan memeluk ku lalu mengucapkan kata sabar, aku tak tahu apa itu sabar bahkan aku tak sadar dengan kata itu yang ku tahu aku begitu hancur dan sangat kehilangan.
Jam terus berputar dan mengarah pada pukul 10.00 wib saat dimana orang orang mengangkat jenazah itu kedalam sebuah sangkar yang terbuat dari bambu, aku hanya mengatakan “ BAPAK, ITU IBUKU, TOLONG JANGAN KALIAN AMBIL IBUKU “ yang kurasa beliau kesakitan tapi tetap saja orang orang itu membawa ibuku meski ku menagis berteriak.
Yang aku mau kembalikan ibuku, meski kalian berjuta juta kalipun mengatakan sabar kalian tak merasakan apa yang aku rasa dan kalian tak tahu betapa hancurnya hati ini saat seseorang yang sangat dicintai dimasukan kedalam sebuah lubang lalu ditutup dengan tanah yang ku tahu itu sangat gelap dan mungkin tak udara disana.
Beberapa langkah kami meninggalkan pusaran terakhirnya, dan saat itu lah rumahku kehilangan satu orang penghuni yang berjasa, adikku sanagt terpukul dia berbicara sendiri bak seolah sedang berbicara dengan ibuku, aku tahu betapa hancur juga hatinya.kami harus rela melewati hari hari tanpa hadirnya.
Menit, jam, hari bahkan bulan aku melewatinya, tak kah kau tau ibu betapa sulitnya aku melewati setiap detiknya waktu tanpa hadirmu.aku harus melakukan semua yang biasa kau lakukan dan taukah betapa sulit itu semua, aku masih menginginkan kehadiranmu untuk menemani kesedihanku ibu.
Mungkin saat ini aku sudah mulai mengikhlaskan kepergian mu, dan semoga apa yang aku lakukan dan apa yang aku pilih kau bahagia ibu, maaf aku tak mewujudkan keinginanmu tapi aku yakin kelak kau akan bangga padaku.aku selalu berdoa semoga kau bahagia, semoga kau damai dan semoga Tuhan memberi kan apa yang sudah menjadi hak mu yang dunia ini tak pernah berikan. Selamat jalan dan sampai jumpa disurga nanti, tersenyumlah ibu maka hidupku akan damai dengan setiap kenangan yang kita ukir. I love you J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar