26 Juni 2014
26 Juni 2014, tanggal itulah yang
paling bersejarah dalam hidupku, ketika Tuhan mengambil belahan jiwaku, Nafas
ku bahkan nyawaku.
Aku berharap tanggal itu takan kembali,
karena hanya akan mengingatkan ku pada masa yang sulit itu, masa dimana Air
mata mengalir begitu deras, langit begitu gelap bahakan kehidupan ku diselimuti
angin yang sangat kencang.
Aku hanya terdiam terpaku bahkan tak
berdaya melihat sosok tubuh yang terbujur tanpa nyawa dibentangkan didepan mata
ini, saat itu aku hanya ingin Tuhan ambil mata ini agar aku tak
melihatnya.perasaan ku kacau saat itu yang ku tahu beliau yang ada dimataku
saat ini sedang duduk didepan rumah menunggu ku pulang.tapi dunia menyadarkanku
dengan sangat kejam, saat dimana orang orang datang kerumahku menyampaikan
turut berdukanya.
Aku basuh tubuhnya dengan air bahkan
air mata untuk yang terakhir kalinya, aku sangat menyesal Tuhan Dulu aku berani
membuat air matanya jatuh dan sekarang kau bahkan tak membiarkanku untuk
menebus hal itu.
Aku terdiam begitu lama didepan jenazah
sambil kulantunkan ayat suci Al-Quran, semua orang berdatangan memeluk ku lalu
mengucapkan kata sabar, aku tak tahu apa itu sabar bahkan aku tak sadar dengan
kata itu yang ku tahu aku begitu hancur dan sangat kehilangan.
Jam terus berputar dan mengarah pada
pukul 10.00 wib saat dimana orang orang mengangkat jenazah itu kedalam sebuah
sangkar yang terbuat dari bambu, aku hanya mengatakan “ BAPAK, ITU IBUKU,
TOLONG JANGAN KALIAN AMBIL IBUKU “ yang kurasa beliau kesakitan tapi tetap saja
orang orang itu membawa ibuku meski ku menagis berteriak.
Yang aku mau kembalikan ibuku, meski
kalian berjuta juta kalipun mengatakan sabar kalian tak merasakan apa yang aku
rasa dan kalian tak tahu betapa hancurnya hati ini saat seseorang yang sangat
dicintai dimasukan kedalam sebuah lubang lalu ditutup dengan tanah yang ku tahu
itu sangat gelap dan mungkin tak udara disana.
Beberapa langkah kami meninggalkan
pusaran terakhirnya, dan saat itu lah rumahku kehilangan satu orang penghuni
yang berjasa, adikku sanagt terpukul dia berbicara sendiri bak seolah sedang
berbicara dengan ibuku, aku tahu betapa hancur juga hatinya.kami harus rela
melewati hari hari tanpa hadirnya.
Menit, jam, hari bahkan bulan aku
melewatinya, tak kah kau tau ibu betapa sulitnya aku melewati setiap detiknya
waktu tanpa hadirmu.aku harus melakukan semua yang biasa kau lakukan dan taukah
betapa sulit itu semua, aku masih menginginkan kehadiranmu untuk menemani
kesedihanku ibu.
Mungkin saat ini aku sudah mulai
mengikhlaskan kepergian mu, dan semoga apa yang aku lakukan dan apa yang aku
pilih kau bahagia ibu, maaf aku tak mewujudkan keinginanmu tapi aku yakin kelak
kau akan bangga padaku.aku selalu berdoa semoga kau bahagia, semoga kau damai
dan semoga Tuhan memberi kan apa yang sudah menjadi hak mu yang dunia ini tak
pernah berikan. Selamat jalan dan sampai jumpa disurga nanti, tersenyumlah ibu
maka hidupku akan damai dengan setiap kenangan yang kita ukir. I love you J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar